Iklan

Kamis, 07 April 2022, April 07, 2022 WIB
Last Updated 2022-04-07T05:38:33Z

Pengembangan Usaha Fermentasi Biji Kakao Berkelanjutan, Dijempol Dua DPRD Jembrana


Jembrana, Peduli Rakyat News - Tujuh pemerintah kabupaten yang terlibat dalam program TRACTIONS atau TRAKSI, Jembrana, Tabanan, Poso, Luwu Utara, Kolaka Timur, Ende, dan Sikka menyatakan dukungan terhadap pengembangan usaha fermentasi kakao berkelanjutan, di Aula Hotel Pura Dajuma, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Kamis (7/4/2022)

Selain perwakilan ketujuh pemkab,  tampak hadir Direktur Yayasan Kalimajari, Bupati Jembrana, Kadis Pertanian, Ketua DPRD Jembrana yang diwakili I Ketut Suastika S.sos M.H dari fraksi PDIP.

Lokakarya ini bertujuan untuk berbagi kemajuan proyek sebagai pembelajaran kepada pemangku kepentingan dan organisasi mitra, dan mendapatkan masukan dan umpan balik dari pemangku kepentingan untuk perbaikan proyek yang berkelanjutan di masa depan dan memperluas dampak proyek. 

Organisasi mitra yakni perwakilan tujuh koperasi petani mandiri (smallholder) di pulau Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur bersama konsorsium sebagai pelaksana, yakni Rainforest Alliance, Valrhona, Kalimajari, Rikolto, dan Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, serta mitra pemerintah dari masing-masing daerah, akan bersama-sama mengadakan lintas pembelajaran dan diskusi pemangku kepentingan dari daerah yang terlibat serta berbagi kemajuan dan capaian proyek, sehingga pihak pemerintah dapat terus meningkatkan komitmen mereka dalam mendukung proyek ini. 

Dengan banyak organisasi mitra yang bekerja pada pelaksanaan proyek, diperlukan koordinasi yang konsisten untuk keberhasilan proyek. Sebelum tahun fiskal kedua pelaksanaan proyek, beberapa kemajuan perlu dibagikan dan tantangan-masalah perlu dipecahkan dan perbaikan berkelanjutan perlu direncanakan dan disepakati. Lokakarya konsolidasi secara nasional dengan melibatkan seluruh pemerintah daerah di lokasi proyek TRAKSI, lokakarya ini merupakan momentum yang baik untuk meninjau kembali indikator kinerja proyek dan tindakan perbaikan yang direncanakan untuk tahun implementasi berikutnya serta bagaimana mendorong fermentasi biji kakao di Indonesia. 

Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan Pelatihan untuk Pelatih dan peningkatan personel proyek dan koperasi produsen tentang pengetahuan dasar yang ada tentang pemrosesan pasca panen kakao, pertanian tanggap terhadap perubahan iklim (Climate Smart Agriculture) serta pertanian kakao sebagai bisnis, serta pengetahuan lanjutan tentang praktik sirkular ekonomi, bisnis masyarakat, kesetaraan gender, keterlibatan anak muda, dan pengenalan standar pertanian berkelanjutan.

Proyek TRACTIONS (Transforming the Cocoa Sector in Indonesia through Value Addition for Smallholders) atau TRAKSI, bekerja untuk menciptakan rantai nilai yang berkelanjutan, transparan, dan efisien untuk biji kakao fermentasi berkualitas tinggi yang diproduksi oleh 3.400 petani kecil di provinsi Bali (kabupaten Jembrana, dan Tabanan), Sulawesi (kabupaten Poso, Luwu Utara, dan Kolaka Timur), dan Nusa Tenggara Timur (kabupaten Ende dan Sikka) di Indonesia. 

Latar belakang proyek
Biji kakao fermentasi dengan mutu yang baik, serta pengolahan dengan metode fermentasi adalah bahan yang cocok untuk cokelat premium. Pasar ceruk dimana produsen membayar harga premium untuk bahan-bahannya telah tersedia. Proyek ini memberikan pelatihan, dukungan teknis dan peningkatan pemahaman kepada petani mandiri, kelompok petani mandiri, dan koperasi tentang fasilitas pemrosesan dan akses ke sarana produksi pertanian, keuangan, dan memfasilitasi kerjasama dengan para pihak, serta akses ke pasar biji premium/flavour bean. Oleh karena itu, proyek ini bekerja untuk meningkatkan produktivitas dan mutu fermentasi berkualitas tinggi yang memenuhi standar produsen cokelat premium. Pendapatan petani mandiri penerima manfaat akan meningkat karena mereka akan mendapatkan keuntungan dari keuntungan harga dari pasar cokelat premium, peningkatan produksi biji basah, dan penurunan biaya produksi dengan adopsi pertanian yang berkelanjutan. 

Indonesia adalah penghasil kakao terbesar di Asia (dan keenam di dunia pada tahun 2018), dengan produksi tahunan  220.000 ton (ICCO). Sementara permintaan pasar akan kakao meningkat pesat, namun produksi Indonesia telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. 

Pada tahun 2011, Rainforest Alliance dan LSM lokal Kalimajari meluncurkan program percontohan yang berhasil membantu petani kecil di Jembrana, Bali, meningkatkan pendapatan mereka melalui produksi kakao fermentasi bernilai tinggi dan akses yang lebih baik ke pasar khusus. 

"Proyek percontohan ini berhasil menggandakan pendapatan lebih dari 600 petani kecil dan mengurangi tingkat pengangguran di pedesaan. Proyek TRAKSI bertujuan untuk mengadopsi keberhasilan ini ke tujuh daerah penghasil kakao lainnya di seluruh Indonesia" jelas Direktur Yayasan Kalimajari I GAA Widiastuti kepada awak media.

Ditempat yang sama, Hasrun Hafid, Team Manager Cocoa dari Rainforest Alliance mengungkapkan “Melalui TRAKSI, kami ingin meningkatkan mutu dan produktivitas sektor kakao Indonesia, membawa pendapatan yang lebih baik, dan meningkatkan mata pencaharian masyarakat petani pedesaan di seluruh negeri. Dukungan dari pengambil kebijakan di tingkat lokal dan nasional sangat diperlukan, agar ada perubahan nilai tambah di tingkat petani dan perbaikan mutu produk” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Jembrana yang diwakili 
I Ketut Suastika S.sos M.H mengatakan, bahwa sektor pertanian khususnya penghasil Kakao menjadi sektor yang mampu tumbuh positif ditengah lesu perekonomian namun demikian sektor pertanian selalu mendapatkan beberapa permasalahan dan tantangan diantaranya pemotongan anggaran mengakibatkan Kementan perlu melakukan refocusing dan realokasi anggaran sehingga rencana kerja mengutamakan kegiatan yang berdampak langsung pada peningkatan produksi di tingkat petani. Sekaligus bertujuan memberikan jaminan ketersediaan pangan bagi masyarakat secara umum.

"Kami mendukung agar penguatan dukungan Transformasi sektor melalui Fermentasi dan peningkatan nilai tambah biji kakao dapat menyentuh dan mengangkat pendapatan para petani melalui kegiatan yang bersifat Loka karya. Kami juga mendorong agar kegiatan pengolahan hasil pertanian (kakao) lebih ditingkatkan sehingga dapat memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan pendapatan para petani," pungkasnya.

(Agus)