Iklan

Selasa, 03 Maret 2020, Maret 03, 2020 WIB
Last Updated 2020-03-25T08:52:39Z
Jember

Tinjau Lokasi Jalan Nasional yang Ambrol, Gubernur Jatim Bersama Bupati Jember Serius Bahas Proses Penanganan Berkesinambungan


Peduli Rakyat News | Jember,- Masyarakat Jember diharapkan memaklumi penutupan jalan saat proses penanganan bencana ambrolnya Jalan Sultan Agung, Kaliwates, yang menyebabkan sembilan ruko ambruk ke Sungai Jompo. Harapan itu disampaikan disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat meninjau di lokasi, pada Selasa dini hari 03 Maret 2020.

“Masyarakat Jember bisa memaklumi Jalan Sultan Agung harus ditutup untuk kepentingan evakuasi pembersihan dan pembongkaran bangunan di sekitar Jompo,” kata gubernur.

Dalam kujungannya untuk meninjau lokasi bencana itu, Gubernur Khofifah didampingi Bupati Jember, dr. Faida, MMR., juga Dandim 0824 Jember, La Ode M Nurdin. Sejumlah alat berat digunakan untuk proses pembersihan reruntuhan bangunan ruko yang jatuh ke sungai dan perobohan bangunan yang masih berdiri itu.

Gubernur Khofifah, menerangkan bahwa sebelumnya kajian yang telah dilakukan merekomendasikan bangunan harus dibongkar. “Karena sudah nampak ada pengeroposan bangunan di bawah dan tidak aman,” jelasnya.

Gubernur Khofifah menambahkan bahwa untuk pnyelesaian masalah itu, akan dilakukan secara berkesinambungan antara Pemkab Jember, Pemprov Jatim, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Hal itu dikarenakan masing-masing kewenangannya berbeda. Jalannya jalan nasional, sungainya dalam kewenangan pemprov, dan bangunan kewenangan Pemkab Jember,” ujar gubernur.


Dalam kesempatan itu juga, gubernur menjelaskan Pemprov Jatim akan terus memantau kesediaan logistik untuk warga Jember yang terdampak banjir maupun menambah bronjong untuk beberapa titik yang ada.

Bupati Faida lokasi bencana itu juga menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Jember sebelumnya telah melakukan langkah-langkah antisipasi amblesnya jalan dan runtuhnya ruko, seperti pengosongan ruko dan lain-lain.

Selanjutnya untuk rekomendasi pusat yang keluar akhir tahun 2019 agar Pemkab Jember merobohkan pertokoan juga telah ditindaklanjuti dengan menganggarkan pada tahun 2020.

“ Untuk kali ini dilakukan percepatan evakuasi bencana,” ungkapnya. Dalam proses pengangkatan reruntuhan bangunan dari sungai menggunakan sejumlah alat berat. Sedangkan untuk perobohan bangunan ruko yang masih berdiri, yaitu ruko nomor 11 hingga 31, diupayakan kea rah jalan sesuai dengan perencanaan.

“Jika dirobohkan ke sungai akan menimpa rumah-rumah penduduk di sekitarnya, juga akan menghambat sungai,” jelas bupati.

Dari data yang ada, untuk pertokoan Jompo yang sebagian rubuh pada Senin, 02 Maret 2020 kemarin, sekitar pukul 04.00 wib itu, dahulu diresmikan pada tahun 1976 berdiri di atas Sungai Jompo.


“Untuk merobohkan ruko-ruko tersebut, harus menutup jalan nasional. Kemungkinan sampai dua minggu dan diharapkan dapat dipercepat,” harap bupati.

Dalam proses percepatan itu, dilakukan dengan menambah alat berat dan pemasangan lampu sorot agar bisa bekerja 24 jam dengan tiga shift kerja.

Pada sisi lainnya, Pemkab Jember saat ini juga sedang menangani bencana di Kabupaten Jember. Terutama bencana banjir di beberapa lokasi.

“Sudah disurvei. Sembilan titik yang memerlukan penanganan cepat dan perlu bronjong,” jelas bupati. Untuk saat ini, Pemkab Jember telah meminta bantuan sebanyak 2.500 bronjong ke Pemprov Jatim dan pemerintah pusat sebanyak 300 bronjong.

“hal itu karena 1800 bronjong yang ada di Jember sudah terpasang semua,” ungkap bupati.

Kecamatan Sumberbaru adalah salah satu daerah yang mengalami bencana banjir. Korban terdampak banjir sebanyak 1.170 kepala keluarga dengann lebih 3.500 jiwa. Untuk penanganan bencana banjir ini berkolaborasi dengan Pemprov Jatim, utamanya terkait dengan logistik bagi korban terdampak tersebut. (*)