Iklan

Senin, 16 Maret 2020, Maret 16, 2020 WIB
Last Updated 2021-06-17T16:01:09Z
BaliBeritaJembrana

Antisipasi Mewabahnya Penyakit Ternak, Dinas Pertanian & Pangan Gelar Rapat

Peduli Rakyat News | Jembrana,- Dalam rangka mengantisipasi mewabahnya penyakit ternak, Dinas Pertaniam Dan Pangan Kabupaten Jembrana, Senin (16/3) menggelar rapat di Ruang Rapat Dinas PPPA- PPKB (Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana), Jl. Surapati No. 1 Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana, Kabupate  Jembrana, Provinsi Bali dipimpin oleh Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Wayan Sutama.

Rapat dihadiri sekira 30 orang peserta diantaranya Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Bali (drh. Ni Putu Mahaning), Ketua GUPBI (Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia) Provinsi Bali (I Ketut Ari Suyasa, SE), Asisten II Sekda Kab. Jembrana (Sumber Wijaya), Pasi Inteldim 1617/Jembrana (Lettu Czi Ida Made Putra), Kasat Binmas Polres Jembrana (AKP Gusti Komang Muliadnyana), Kasi Intel Kejari Jembrana (I Gusti Ngurah Sumardika, S.H), Kasi PTI Pol PP Kab. Jembrana (I Putu Ardana, S.Sos), Kabid Keswan dan Kesmavet Kab. Jembrana (I Wayan Widarsa), PDHI (Persatuan Dokter Hewan Indonesia) Kab. Jembrana (drh. I Gusti Ngurah Suasnawa), Perwakilan PHDI Kab. Jembrana (Gede Muriata), Perwakilan Majelis Madya Desa Adat Kabupaten Jembrana (drh. I Gusti Ngurah Sukatama) dan perwakilan peternak Babi Kabupaten Jembrana.

Dalam sambutan Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Wayan Sutama mengatakan rapat ini dilakukan bertujuan bagaimana di Kabupaten Jembrana agar bebas dari Penyakit ASF (African Swine Fever) atau Demam Babi karena mempunyai dampak yang cukup luas diantaranya dampak ekonomi dan sosial budaya. "Untuk itu kita harus kerjasama dalam antisipasi ASF (African Swine Fever) menyebar di Kabupaten Jembrana dengan melarang ternak Babi dari luar Kaupaten Jembrana masuk ke Kabupaten Jembrana dan jangan mencari ternak Babi di luar dari Kabupaten Jembrana", jelas Kadis.



Sementara itu, Kabid Keswan dan Kesmavet Kabupaten Jembrana, I Wayan Widarsa memaparkan Penyakit ASF (African Swine Fever) ini merupakan penyakit yang menyerang Babi segala umur yang disebabkan oleh Asfivirus dengan angka kesakitan dan kematian 100%. Penyakit ASF (African Swine Fever) tidak bisa di obati karena penyebanya adalah Virus dan langkah satu satunya adalah melalui pencegahan dengan biosecurity dan vaksinasi. Gejala ASF (African Swine Fever) Anoreksia (babi tidak mau makan), Febris (Babi demam, lesu, lemah dan ada kemerahan di bagian kulit) dan Babi mati dalam waktu 4-5 hari atau juga mendadak. "Penyebaran ASF (African Swine Fever) bisa melelui vektor peternakan (Nyamuk dan lalat) dan bisa melelui alat dan bahan dalam kandang akibat babi sakit, orang tercemar seperti dagang dan saudagar babi keliling", paparnya.

Berikut penyampaian dari Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Bali, drh. Ni Putu Mahaning pada intinya mengatakan Kabupaten Jembrana sampai saat ini masih minim kasus ASF baru 1 ekor dari 49 kasus yg dilaporkan ke Dinas Peternakan Provinsi Bali. "ASF yang disebabkan virus yg belum ada obatnya dan bagaimana menggali dilapangan agar tidak langsung memvonis bahwa itu ASF. Bagaimana mengawasi agar peredaran babi agar diperketat tidak hanya dari Dinas Peternakan namun harus tetap berkoordinasi ke instansi terkait. Peran serta dari desa Adat utk ikut pengawasan penyebaran penyakit ASF. Dari Dinas Provinsi sudah membentuk Tim Respon Cepat untuk mencari informasi terkait penyebaran penyakit ASF dan memberikan informasi kepada masyarakat terkait gejala" penyakit ASF", terang drh. Mahaning.

Disusul penyampaian dari Ketua GUPBI (Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia) Provinsi Bali, I Ketut Ari Suyasa, SE menjelaskan penyakit babi yang menyebabkan banyak kematian pada babi dapat berdampak pada sektor ekonomi, sosial dan budaya. GUPBI menyarakan untuk bekerja sama dengan para Desa Adat dan menangani kasus kematian babi (Penyakit ASF). "Kami berharap dengan adanya kerjasama dengan Desa Adat untuk mencegah lalu lintas daging maupun ternak dari wilayah terdampak. Ini dapat dilakukan sebagai satu diantara cara meminimalisir penyebaran Virus ASF", harapnya.

Di akhir rapat, Asisten II Sekda Kabupaten Jembrana, Sumber Wijaya menyampaikan Pemkab Jembrana sangat serius untuk menangani Virus ASF agar tidak meluas. "Hal yang paling penting bagaimana bisa menyadarkan masyarakat khususnya peternak babi agar dalam beternak babi harus disiplin sesuai dengan aturan dalam beternak babi guna terhindar dari virus ASF dan Pemkab Jembrana akan mempasilitasi anggaran untuk mengantisipasi virus ASF", tegas Sumber Wijaya. (Suar)